gazing the sky
Mari sayangku! Kita bicara cinta
 
Tuesday, March 07, 2006
George
George namanya. Yang kuingat adalah kulitnya begitu putih seperti melati merekah dan wajahnya menyungging senyum. Dia datang pagi itu diiringi serombongan pria dan wanita yang kukenal sebagian dari gereja kami. Sedari pagi aku sudah siap menyambutnya, karena aku tidak sabar ingin melihat wajahnya.

George rupanya. Dia mengenakan baju putih bersinar dan digendong oleh Papa. Wah, keretanya mana? Karena biasanya anak kecil akan didudukkan di kereta bukan?, begitu pikirku. Namun yang tersedia adalah sebuah meja kayu beralaskan bantal kecil dan selimut. Ini bukan cara yang biasa untuk menyambut tamu bukan? Lalu kenapa semua terbalut warna hitam muram dan menyandang duka? Ah, aku yang masih berusia 9 tahun rasanya belum paham benar apa artinya duka. Yang kulihat adalah banyak orang yang menangis, terutama Papa. Aku menunggu-nunggu Mama namun ia tidak kelihatan. Sakitkah ia?

George manisnya. Perlahan kain putih itu terbuka dan tersingkaplah wajahnya. Putih dengan menyandang seutas senyum. Jemari kecilnya lentik namun menggenggam erat. Tubuhnya kaku namun damai. Ah, cuma dia sendiri yang tersenyum sementara yang lain menangis. Aku pun menangis juga, namun belum mengerti kenapa aku mesti menangis.

George sedihnya. Hanya sedepa saja matahari bergerak, iapun sudah diangkat dari peraduannya. Tak perlu banyak orang, cukup satu lengan pun berangkatlah. Menembus teriknya hari ia pun sampai di sebuah taman. Sejengkal luas tanahnya diambil, sebagai gantinya kau pun ditidurkan di sana. Doa dinaikkan, meski aku tidak tahu mana yang akan sampai dari 2 ragam doa yang berkumandang di sana.

George damainya. Selepas SMA pernah kucari kembali makamnya. Tidak bisa kutemukan namanya. Mungkin nama lain yang tertera pada nisannya. Air mata tumpah ruah di tengah siang bolong di ranah kegalauan mencari makam yang hilang. Namun aku tahu di mana rumahnya yang abadi, bahwa jasad akan berlalu namun roh tinggal tetap. Rumah di bumi boleh tertelan namun rumah di surga tetap bersinar. Wajahnya boleh terhapus dari pigura, namun di hati terukir senyumnya.

In loving memory of:
Otto Benny George Marlissa
Lahir 13 Desember 1983, pukul delapan kurang dua puluh
Wafat 13 Desember 1983, delapan jam kemudian

Celebrating the life of:
Ronald Patrick Marlissa
Lahir 13 Desember 1984, pukul delapan lewat dua puluh

Tuhan penyeka air mata kita!
posted by Bradley 6:28 PM  
 
1 Comments:
  • At Thursday, March 16, 2006 3:46:00 PM, Blogger Eben E. Siadari said…

    Dear Bung Brad, kenapa saya jadi ikut-ikut kelabu baca ini ya? George mudah-mudahan selalu 'hidup' di hati orang-orang yang pernah mengenal dan mengenang kebaikannya. Senang sekali, Bung Brad bisa juga bersendu ria, disamping bercanda dengan tulisan ngokotnya. Salam dari yang ngikutin terus tulisan2nya. Hebat. Terbitin bareng yooook

     
Post a Comment
<< HOME

myprofile
Name: Bradley
Home: Jakarta, Indonesia
About Me: "Never explain yourself to anybody because the person who likes you does not need it and the person dislikes you will not believe it"
See my complete profile


haveyoursay!


previouspost
Serangan Umum 1 Maret 2006
gak ada habisnya
BAHASA BAKUNYA STAPLER
*bete mode on*
Blessed Are The Poor In Spirit
Breathless Life in Church Ministry ... begins !!!
SBY for Nobel Peace Prize 2006
Awesome Trip
Tolong!
Blogadryl Antistressthamine


myarchives
May 2005
June 2005
August 2005
September 2005
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
February 2006
March 2006
April 2006
May 2006
June 2006
July 2006
August 2006
September 2006
October 2006
November 2006
December 2006
January 2007
February 2007
March 2007
April 2007
May 2007
June 2007
July 2007
August 2007
September 2007
January 2008


mylinks


blogupdate


bloginfo
This blog is powered by Blogger and optimized for Firefox.
Blog designed by TemplatePanic.
BlogFam Community